Pesantren, Tradisi Kritik Berkelanjutan dan Kiai Imam Jazuli

Pesantren, Tradisi Kritik Berkelanjutan dan Kiai Imam Jazuli

*Oleh : DR. KH. Aguk Irawan, MA

TRIBUNNEWS.COM – Dunia Pesantren belum sepenuhnya tersingkap, sebelum tradisi kritik dipahami sebagai bagian dari karakteristiknya. Pemisahan tradisi kritis dari pesantren tidak hanya bertentangan dengan fakta sejarah, tetapi juga tidak sejalan dengan semangat Islam. Mujlah, menurutnya, memiliki tahapan sakral dalam tradisi Islam. Para santri dan kiai yang berdebat itu sebenarnya sedang menjalankan ajaran agama dan keyakinannya.

Baru-baru ini telah terjadi tahap perdebatan sengit, cryptocurrency (mata uang kripto). Berawal dari putusan final Institut Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang menyebutnya sebagai perkara yang tidak cukup untuk disebut komoditas dan karenanya tidak sah untuk diperjualbelikan. Banyak kendala dan bantahan bagi kiai Jawa Timur untuk membenarkan uang kripto.

Segala keberatan yang membuat hati kiai Jawa Timur gundah, tidak penulis temukan di hati dan pikiran kiai muda lainnya, misalnya dari lembaga Bahtsul Masail di Yogyakarta. Padahal sebenarnya ada sisa-sisa kesengsaraan yang sama, misalnya dari ulama yang lebih tua dari daerah lain, termasuk Yogyakarta sendiri.

Berbagai permasalahan tersebut dapat dipahami sebagai konsekuensi dari tradisi kritik yang terpelihara dengan baik di lingkungan pesantren pada umumnya dan lingkungan Nahdliyyin pada khususnya. Tradisi kritik ini sudah sangat tua, sudah ada sejak pesantren pertama kali dibentuk, tepatnya di masa keemasan dakwah Islam di Nusantara. Bahkan, anggota Walisongo tidak selalu sepakat dalam memilih jalur dakwahnya masing-masing.

The post Pesantren, Tradisi Kritik Berkelanjutan dan Kiai Imam Jazuli appeared first on SharingMedia.co.

Gulir ke Atas